Australian Wagyu: Klasifikasi, Karakter, dan Perannya dalam Dunia Steak

Meatguy Steakhouse by   Baren maulana chef January 29, 2026

Wagyu identik dengan kualitas tinggi, marbling halus, dan rasa yang kaya. Meski berasal dari Jepang, kini wagyu juga diproduksi di berbagai negara dengan standar tinggi, salah satunya Australia. Australian Wagyu menjadi pilihan utama banyak steakhouse dan layanan grill profesional karena menawarkan keseimbangan antara kualitas, konsistensi, dan karakter rasa yang kuat. Artikel ini akan membahas klasifikasi Australian Wagyu, perbedaannya, serta alasan mengapa jenis wagyu ini banyak digunakan dalam pengalaman steak modern.

Australian Wagyu: Klasifikasi, Karakter, dan Perannya dalam Dunia Steak

Sekilas tentang Australian Wagyu Australia mulai mengembangkan wagyu sejak akhir tahun 1990-an dengan mengimpor bibit sapi wagyu dari Jepang dan mengembangbiakkannya secara terkontrol. Dengan pengalaman panjang sebagai salah satu produsen daging sapi terbaik dunia, Australia berhasil mengadaptasi wagyu ke sistem peternakan modern tanpa menghilangkan karakter utamanya: marbling dan kelembutan.

Jika ingin memahami lebih jauh tentang asal-usul dan karakter wagyu secara umum, kamu bisa membaca artikel Daging Wagyu: Sejarah, Karakteristik, dan Keistimewaannya.

Sistem Klasifikasi Wagyu Australia

Berbeda dengan wagyu Jepang yang menggunakan sistem A3–A5, wagyu Australia diklasifikasikan berdasarkan persentase genetika wagyu murni dalam sapi tersebut. Semakin tinggi kandungan genetika wagyu, semakin tinggi pula kualitas marbling dan harga dagingnya.

Baca Juga : Kobe Wagyu, Daging Sapi Jepang Paling Diminati di Dunia!

Wagyu F1 (50% Wagyu)

Wagyu F1 merupakan hasil persilangan antara sapi wagyu dengan sapi non-wagyu seperti Black Angus atau Hereford. Kandungan genetika wagyu sebesar 50% menghasilkan daging dengan marbling ringan hingga sedang. Jenis ini banyak digunakan untuk menu steak entry-level karena rasanya tetap juicy namun lebih “meaty” dan approachable.

Wagyu F2 (75% Wagyu)

Pada level F2, kandungan genetika wagyu meningkat menjadi sekitar 75%. Marbling mulai terlihat lebih merata, tekstur lebih lembut, dan rasa lemaknya lebih terasa. Wagyu F2 sering digunakan di restoran yang ingin menawarkan pengalaman wagyu dengan harga yang masih relatif terjangkau.

Wagyu F3 (87% Wagyu)

Wagyu F3 memiliki kandungan genetika wagyu sekitar 87%. Pada level ini, karakter wagyu sudah sangat dominan: marbling lebih halus, tekstur daging lembut, dan rasa gurih yang lebih kompleks. F3 sering dipilih oleh steakhouse premium yang menekankan kualitas rasa dan konsistensi.

Wagyu F4 / Purebred (±93% Wagyu)

F4 atau purebred wagyu memiliki sekitar 93% genetika wagyu murni. Dagingnya mendekati karakter wagyu Jepang, dengan marbling yang sangat merata dan tekstur yang hampir “melting”. Jenis ini biasanya disajikan dengan teknik masak sederhana agar karakter daging tetap menonjol.

Full Blood Wagyu (100% Wagyu)

Full blood wagyu adalah wagyu dengan genetika 100% murni wagyu. Secara visual, sulit dibedakan dengan wagyu Jepang bagi orang awam, namun secara resmi perbedaannya dapat dilihat dari sertifikasi dan labeling. Full blood wagyu Australia dikenal memiliki marbling tinggi, rasa lemak bersih, dan konsistensi yang sangat baik.

Karakter Australian Wagyu di Atas Grill

Australian Wagyu dikenal stabil saat dimasak dengan metode grill. Lemaknya tidak mudah “meledak”, tetap juicy, dan menghasilkan aroma yang clean. Inilah alasan mengapa jenis wagyu ini banyak digunakan tidak hanya di restoran, tetapi juga dalam pengalaman open-fire grill dan steak catering yang menuntut konsistensi hasil.

Dari Restoran ke Pengalaman Grill

Pemahaman tentang klasifikasi dan karakter Australian Wagyu menjadi penting saat daging disajikan di luar dapur restoran. Layanan seperti Grillz menggunakan daging dengan spesifikasi yang tepat agar kualitas wagyu tetap terjaga meski dimasak di lokasi acara. Pemilihan wagyu yang sesuai memastikan steak tetap empuk, juicy, dan konsisten untuk setiap tamu.